Menjadikan Perbedaan Jalan Kasih Sayang

Oleh:  Khoirul Umam

Diskursus perbedaan pandangan atau dengan istilah lain al-ikhtilaf yang mengakibatkan pada pertengkaran di kalangan kita masih saja terjadi, bahkan hampir bisa dikatakan sebaga unlimited problem. Atau mungkin hanya sebuah trend saja agar kita disebut sebagai orang yang serba tahu (padahal sok tahu ….).

Seharusnya diskursus semacam ini menjadikan kita golongan yang memiliki fleksibilitas yang tinggi. Mengingat kita adalah golongan yang mengaku sebagai pengikut manusia sempurna yang pernah diciptakan Allah di muka bumi ini sebagai pembawa kasih dan sayang.

Rasulullah saw. pernah bersabda :

الاِخْتِلاَفُ بَيْنَ أُمَّتىِ رَحْمَةٌ

Artinya : “perselisihan di antara ummatku adalah rahmat”

Ironinya, kita sebagai pengikutnya lebih menginterpretasikan sabda beliau sebagai kemestian adanya sebuah perselisihan, karena jika tidak ada perselisihan—yang implikasinya adalah pertikaian bahkan permusuhan—maka tidak akan ada rahmat atau kasih sayang Tuhan. Padahal semestinya perselisihan atau perbedaan pandangan di antara kita harus menumbuhkan jalinan kasih sayang dan saling menghargai di antara kita sehingga akan mendatangkan kasih sayang Tuhan…

Memang sulit utuk melakukan hal semacam ini karena kita terkadang selalu menganggap diri kita lebih tahu dari orang lain atau bahkan lebih baik. Akan tetapi sebuah paradigma baru tentang sebuah perbedaan harus terjadi dengan mereinterpretasi sabda Rasulullah di atas yang disesuaikan dengan konteks kita sekarang.

Mari kita ingat kembali cerita tentang seorang ulama besar—yang menjadi salah satu madzhab yang dianut—yaitu imam Asy-Syafi’i. beliau adalah seorang ulama yang memiliki konsep sendiri dalam menjalankan ibadahnya. Namun ketika beliau singgah di sebuah kota kemudian beliau tahu bahwa di kota tersebut ada sebuah makam seorang ulama besar—yang juga menjadi imam madzhab—yang memiliki konsep berbeda dengan beliau. Ketika beliau hendak menjalankan sholat wajib maka beliau tidak menggunakan konsep sholat yang biasa belia jalankan, akan tetapi belia menjalankan sholat dengan menggunakan konsep ulama di kota itu dengan alasan bahwa apa yang menjadi konsep antara dirinya dengan ulama di kota itu pun berdasarkan konsep kalam Allah dan sabda Rasulullah. Dan tidak ada yang diharapkan imam Syafi’i dari sebuah perbedaan atau perselisihan kecuali datangnya rahmat Allah baginya dan bagi yang menjalankan konsep beliau.

Allah swt. berfirman :

Artinya : “wahai manusia sesungguhnya aku telah menciptakanmu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan aku jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu sekalian saling mengenal. Sesunggunhya yang paling mulia di antara kamu di sisiku adalah (orang) yang paling bertaqwa di antara kamu”

Ayat di atas menggambarkan bahwa perbedaan adalah sebuah sunnatullah yang telah Allah gariskan dan tidak terelakkan. Namun perbedaan itu sendiri—yang telah tertera dalam ayat di atas—tidak dimaksudkan aga antara manusia satu dengan lainnya beranggapan bahwa dirinya adalah yang terbaik dari yang lainnya, tapi justru al-Qur’an mengajarkan kita bahwa adanya perbedaan di antara ummat manusia adalah agar manusia itu bisa saling menghargai. Karena sesunggunya tidak ada yang bisa kemuliaan kita atau kebenaran kita kecuali Allah swt. wallahu a’lam bi as-shawab.

Satu Tanggapan

  1. Zien.comp@yahoo.co.id
    Punten Kang heri…………………….. Bisa diperjelas sanad nya engga mengenai sabda rasul :
    الإختلاف بين أمـــــتى رحمة
    Sekalian sama kedudukan sabda tersebut……………………..
    Syukron

Tinggalkan Balasan